Selasa, 08 Maret 2011

Budidaya tanaman Hias

C. PEMBIBITAN

Perbanyakan tanaman anggrek pada umumnya dilakukan melalui dua cara yaitu, konvensional dan dengan metoda kultur in vitro. Perbanyakan tanaman yang dilakukan secara konvensional adalah sebagai berikut :
  • Perbanyakan vegetatif malalui pemecahan/pemisahan rumpun seperti Dendrobium sp., Oncidium sp., Cattleya sp., dan Cymbidium sp.; pemotongan anak tanaman yang ke luar dari batang seperti Dendrobium sp.; pemotongan anak tanaman yang ke luar dari akar dan tangkai bunga seperti Phalaenopsis sp., yang selanjutnya ditanam ke media yang sama seperti pakis, mos serabut kelapa, arang, serutan kayu, disertai campuran pecahan genting atau batu bata. Perbanyakan secara vegetatif ini akan menghasilkan anak tanaman yang mempunyai sifat genetik sama dengan induknya. Namun perbanyakan konvensional secara vegetatif ini tidak praktis dan tidak menguntungkan untuk tanaman bunga potong, karena jumlah anakan yang diperoleh dengan cara-cara ini sangat terbatas.
  • Perbanyakan generatif yaitu dengan biji. Biji anggrek sangat kecil dan tidak mempunyai endosperm (cadangan makanan), sehingga perkecambahan di alam sangat sulit tanpa bantuan jamur yang bersimbiosis dengan biji tersebut.
Untuk menghasilkan bunga dalam jumlah banyak dan seragam diperlukan tanaman dalam jumlah banyak pula. Oleh karena itu peningkatan produksi bunga pada tanaman anggrek hanya dapat dicapai dengan usaha perbanyakan tanaman yang efisien. Pada saat ini metode kultur in vitro merupakan salah satu cara yang mulai banyak digunakan dalam perbanyakan klon atau vegetatif tanaman anggrek. Kultur in vitro pertama kali dicoba oleh Haberlandt pada tahun 1902, karena adanya sifat tanaman yang disebut totipotensi yang dicetuskan oleh kedua orang sarjana Jerman Schwann dan Schleiden pada tahun 1830.
Metode kultur in vitro yaitu menumbuhkan jaringan-jaringan vegetatif (seperti : akar, daun, batang, mata tunas) dan jaringan-jaringan generatif (seperti : ovule, embrio dan biji) pada media buatan berupa cairan atau padat secara aseptik (bebas mikroorganisme).
Secara generatif, benih tanaman diperoleh melalui biji hasil persilangan yang secara genetis biji-biji tersebut bersifat heterozigot. Sehingga benih-benih yang dihasilkan mempunyai sifat tidak mantap dan beragam. Dengan cara ini untuk mendapatkan tanaman yang sama dengan induknya sangatlah sulit, karena persilangan anggrek telah berkembang demikian luasnya. Namun dengan cara ini akan diperoleh varietas baru.
Secara vegetatif yaitu menumbuhkan jaringan-jaringan vegetatif atau kultur jaringan seperti akar, daun, batang atau mata tunas pada media buatan berupa cairan atau padat secara aseptik. Dengan metode ini dapat diharapkan perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara cepat dan berjumlah banyak, serta sama dengan induknya.

Sabtu, 22 Januari 2011

budidaya ikan hias air laut

Budi Daya Biota Laut
Ikan Hias Air Laut Masih Sulit
Editor : Ignatius Sawabi
Sabtu, 21 Agustus 2010 | 08:46 WIB
National Geographic
DENPASAR, KOMPAS.com — Pengusaha ikan hias di Bali belum mampu melakukan budidaya ikan hias air laut karena kurang modal dan belum menguasai teknologi untuk penanganannya.
   
"Belum ada usaha budidaya ikan hias air laut merupakan salah satu masalah yang dihadapi dalam perdagangan tersebut," kata Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, Putu Bagiada SE di Denpasar, Sabtu (21/8/2010).
   
Pemburu ikan hias hidup di laut kadang-kadang mengabaikan kelestarian terumbu karang dan hanya beberapa kelompok nelayan yang mampu menangkap komoditas ekspor itu tanpa merusak lingkungan.
   
Kualitas ikan hias hidup yang ditangkap menggunakan alat peledak relatif rendah. Selain merusak terumbu karang di laut, penangkapan dengan peledak juga menyebabkan daya tahan ikan relatif pendek sehingga dikhawatirkan mati sebelum tiba di konsumen.
   
"Ini merupakan permasalahan yang dihadapi mengapa realisasi ekspor ikan hias hidup berkurang, baik dalam volume maupun perolehan devisanya," kata dia sambil menyebutkan angka realisasi perdagangan luar negerinya.
   
Realisasi ekspor ikan hias hidup dari Bali selama Januari-Mei 2010 hanya tercatat 294.745 ekor bernilai 382.635 dollar AS, melorot 22 persen dalam volumenya dan 6,7 persen dalam nilai jika dibandingkan periode sama 2009.
   
Perdagangan hasil tangkapan nelayan pantai itu selama lima bulan I-2009 mencapai 380.944 ekor seharga 410.285 dollar AS dengan tujuan utama adalah Singapura, Hongkong, Malaysia, Eropa, dan Amerika Serikat.